Pengalaman Seleksi CPNS 2019


1.  Alasan mendaftar CPNS di Pusat Teknologi Bioindustri (PTB), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Menjadi seorang PNS adalah impian bagi beberapa orang, termasuk saya. Namun saya lebih berminat untuk mengikuti seleksi CPNS saat sudah mengantongi ijazah S2 karena selain agar keilmuannya lebih spesifik, jumlah pesaing yang tidak sebanyak S1. Namun ternyata jalan hidup tidak demikian, siapa sangka saya yang dari semester 8 sudah persiapan untuk studi lanjut S2 malah belok kanan menjadi pejuang CPNS. Tapi bagaimanapun hasilnya tetap disyukuri. Berikut akan saya ceritakan bagaimana saya bisa pindah haluan dari seorang pejuang beasiswa LPDP menjadi pejuang CPNS.

September 2019 merupakan awal pembukaan CPNS 2019. Pada saat itu posisi saya bekerja di salah satu perusahaan swasta di Yogyakarta sehingga kurang begitu mengikuti informasi mengenai seleksi tersebut, terlebih saya juga belum pernah mengikuti seleksi CPNS. Bahkan tipe materi dan bentuk seleksinya pun saya tidak tau. Hingga suatu hari saat pulang bekerja, bapak menanyakan perihal seleksi CPNS ini karena beliau sering beli koran dan hari itu berita utamanya perihal seleksi CPNS ini, tapi karena saat itu saya belum banyak mengetahui jadi saya jawab juga secukupnya. Sampai 3 hari bapak selalu menanyakan apakah saya tidak tertarik dan tidak ingin mencoba mengikuti seleksi CPNS dan saya jawab tidak. Hingga muncul sedikit perdebatan mengenai cita cita saya yang saat itu masih idealis ingin menjadi seorang dosen. Di hari lain ibu juga menanyakan namun dengan arah pembicaraan yang sedikit berbeda, beliau sedikit menenangkan bahwa sebenarnya bapak hanya ingin saya mengikuti seleksi tersebut dan tidak harus lolos karena baginya lebih baik mencoba dari pada menyesal di hari kemudian. Tapi apabila lolos ya berarti memang rejeki saya. Agak lama juga sebenarnya bingung mau mendaftar atau tidak karena teman-teman dari kampus dan SMA banyak yang sudah membicarakan untuk mendaftar dan mengikuti seleksi ini.

Tak lama kemudian, muncul acara TV Mata Najwa yang dengan tema-nya saya membuat saya terpanggil. Tema utamanya “Apa enaknya jadi PNS?” (di Youtube masih ada) dengan bintang tamunya juga keren, yakni bapak Ganjar Pranowo (Gubernur Jateng), Ridwan Kamil (Gubernur Jabar), Khofifah indah (Gubernur Jatim), dan Bapak Anies Baswedan (Gubernur DKI Jakarta). Selain itu, ada juga beberapa pendaftar CPNS yang dengan sengaja didatangkan ke studio untuk ditanya alasan mendaftar. Dari program tv tersebut saya sedikit tertarik untuk mendaftar, kemudian saya juga membaca beberapa blog perihal alasan anak muda harus mendaftar CPNS. Selain itu, saya juga berusaha mencari channel di youtube bagaimana peluang studi lanjut bagi seorang PNS. Intinya pada saat itu saya berusaha memantapkan diri mengapa saya harus mendaftar. Setelah saya renungkan, sholat istikharah dan berunding dengan orang tua akhirnya saya putuskan untuk mendaftar CPNS dan mengikuti seleksinya. Berikut alasan saya versi lengkapnya, yaitu:

1.       Saya ingin menunaikan keinginan orang tua, karena saya tidak ingin menyesal karena terlambat membahagiakan orang tua

2.       Kondisi ekonomi keluarga yang tidak memungkinkan saya untuk studi lanjut sehingga harus menunda keinginan tersebut

3.       Saya seorang penerima beasiswa bidikmisi, dan saya rasa  melalui CPNS ini saya bisa mengembalikan apa yang negara sudah berikan kepada saya dan bisa berkontribusi. Saya teringat bapak Anies Baswedan pernah mengatakan bahwa pada saat kuliah adalah waktu terbaik untuk belajar banyak hal, dan setelah lulus kuliah adalah waktu terbaik untuk mengabdi dan berkontribusi kepada Negara melalui berbagai bentuk. Maka dari itu, apapun profesi kita (penerima beasiswa bidikmisi) dan di mana pun kerjanya seharusnya kita tetap bisa berkontribusi bagi Negara dalam bentuk apapun.

4.       Unit kerja dan instansi sesuai dengan minat, yaitu dalam bidang riset/penelitian dan pengembangan dan Instansi yang saya tuju termasuk salah satu instansi yang saya kagumi.

5.       Jenjang karir jelas dan kita semua pasti sudah paham kalau PNS lebih stabil dalam pendapatan walaupun gaji masih tergolong cukup.

6.       Kesempatan untuk studi lanjut lebih banyak dan fokus kajian lebih mendalam karena sudah paham apa yang akan dipelajari dan diterapkan di tempat kerja.

 

Saya mendaftar dan membuat akun di SSCN cukup mepet dengan hari penutupan. Dibantu dengan beberapa teman akhirnya saya berhasil membuat akun dan mendaftar. Namun masih bingung juga mau daftar di formasi apa, orang tua membebaskan perihal ini bahkan kalau saya minat ke luar pulau jawa orang tua tetap mendukung. Dengan sistem SSCN tahun 2019 ini pencarian formasi cukup mudah, namun tetap bingung karena jumlah formasi yang sesuai program studi sangat banyak, hingga akhirnya saya ganti pendidikan terakhirnya dari S1-Biologi menjadi S1-Mikrobiologi (karena peminatan s1 lebih ke mikrobiologi). Hasil pencariannya masih cukup banyak namun saya langsung tertarik ke BPPT sebagai Perekayasa. Karena instansi ini arahnya riset dan pada saat kebakaran hutan di Sumatra menciptakan hujan buatan dengan modifika cuaca, namun baru tau juga kalau ternyata ada formasi untuk anak Biologi. Formasi yang ditawarkan BPPT untuk s1-Biologi cukup banyak di beberapa unit kerja, karena saya pada saat itu ingin belajar banyak mengenai Bioteknologi, maka saya putuskan untuk mengambil formasi sebagai perekayasa di Balai Bioteknologi. Pertimbangannya pada saat itu karena di BPPT ini merupakan rahimnya teknologi di Indonesia sehingga di balai biotek ini harapannya bisa menjembatani hasil riset ilmu dasar biotek (LIPI) ke masyarakat atau pihak eksternal.

(Daftar lowongan CPNS 2019 di BPPT, Sumber: BPPT)

 

Di sini lah saya merasakan ada faktor lain yang pada akhirnya membuat saya yakin bahwa ini merupakan jalan terbaikku menjadi seorang  perekasaya di PTB. Jadi balai bioteknologi dan pusat teknologi bioindustri merupakan dua unit kerja yang berbeda namun masih satu deputi. Dan pada saat saya memilih unit kerja menggunakan sistem entah mengapa saya malah salah pilih yang di Bioindustri (PTB). Baru setelah saya finalisasi baru sadar bahwa saya salah pilih. Perlu diketahui juga bahwa pada saat milih nama unit kerjanya cukup panjang dan keduanya ada kata “Bioteknologi” sehingga mungkin itu yang membuat saya salah piliih. Kemudian saya mencoba mencari informasi proyek apa yang sedang dikembangkan di PTB dan hasilnya sangat sesuai dengan minat dan pengalaman penelitian saya di S1. Mungkin ini yang dinamakan dengan jodoh wwkwkwkw. Setelah itu saya mencoba memantapkan hati untuk mendaftar di PTB dengan formasi cumlaude (karena berbagai pertimbangan juga).  

Masing-masing instansi memiliki peraturan yang berbeda-beda terkait seleksi awal administrasi, termasuk BPPT.  Mungkin ini yang tidak boleh ditiru teman-teman. Jadi pada saat itu saya kira semua persyaratan administrasi sama tanpa saya baca informasi resmi dari BPPT. Sehingga saya tanya teman terkait persyaratan  mereka diwajibkan untuk mencari surat kesehatan jasmani dan rohani, bebas napza dan SKCK sehingga saya juga ikut-ikutan mencari surat-surat tersebut, padahal untuk instansi saya surat tersebut dikumpulkan besok apabila sudah lolos sampai tahap akhir. Sehingga cukup membuang waktu di awal untuk mengurus surat tersebut karena tidak jadi digunakan. Setiap instansi umumnya juga memiliki grup baik via telegram atau whatsapp yang sering membahas persyaratan masing-masing instansi yang bersangkutan, dan saya cukup terlambat untuk gabung di grup tersebut.

Persyaratan adminsitrasi untuk BPPT cukup mudah, hanya cukup mengunggah:

1.       Ijazah dan transkip nilai

2.       Akreditasi universitas dan program studi (Harus “A” apabila mendaftar dengan formasi cumlaude)

3.       KTP

4.       Surat lamaran (format sudah disediakan)

5.       Foto berlatar belakang merah.

6.       Daftar riwayat hidup dan surat pernyataan (format sudah disediakan )

7.       Abstrak Skripsi

Semua dokumen tersebut dilengkapi dan discan, kemudian diupload di akun SSCN akun masing-masing. Pada seleksi ini hanya dilihat tiap dokumen apakah sesuai atau tidak. Biasanya akan fatal apabila nama tidak sesuai antara KTP dan ijazah, pendidikan tidak sesuai misalnya yang harusnya S1-Biologi namun di ijazah S1-Pendidikan Biologi. Format surat pernyatan dan lamaran. Namun ada juga kasus yang pendidikan berbeda namun lolos sampai hasil akhir SKB, baru pada saat pemberkasan digugurkan karena pendidikan tidak sesuai padahal hal semacam ini harusnya gugur di awal (sumber youtube). Untuk yang lolos seleksi administrasi akan diundang untuk mengikuti Seleksi Kompetensi Dasar (SKD). Maka dari itu, apabila sudah di tahap ini, penting untuk selalu memantau informasi dari Badan Kepegawaian Negara (BKN) atau instansi masing-masing.

Saran untuk teman-teman yang akan berjuang di seleksi CPNS tahun 2021:

1.       Bulatkan tekad dan niat, jangan hanya ikut-ikutan.

2.       Sesuaikan minat dengan instansi yang dilamar, cari tau juga jabatan yang dilamar dan sistem kerjanya. Biasanya hal ini akan berpengaruh pada saat SKB (Seleksi Kompetensi Bidang).

3.       Aktif mencari informasi terkait seleksi cpns dan instansi

4.       Baca dengan teliti persyaratan yang harus dipenuhi, kualifikasi pendidikan dan lokasi unit kerja. Ingat bahwa PNS sekarang tidak boleh mengajukan pindah selama 10 tahun  sehingga pemilihan instansi dan unit kerja menjadi cukup penting.

5.       Perhitungkan peluang lolos atau tidak. Karena banyak yang menyesal karena ternyata formasi yang dilamar jumlah pesaingnya cukup tinggi.

 

Komentar